Jumat, 11 November 2011

GESANG

Gesang atau lengkapnya Gesang Martohartono (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 1 Oktober 1917 – meninggal di Surakarta, Jawa Tengah, 20 Mei 2010 pada umur 92 tahun) adalah seorang penyanyi dan pencipta lagu asal Indonesia. Dikenal sebagai "maestro keroncong Indonesia," ia terkenal lewat lagu Bengawan Solo ciptaannya, yang terkenal di Asia, terutama di Indonesia dan Jepang. Lagu 'Bengawan Solo' ciptaannya telah diterjemahkan kedalam, setidaknya, 13 bahasa (termasuk bahasa Inggris, bahasa Tionghoa, dan bahasa Jepang)


Gesang tinggal di di Jalan Bedoyo Nomor 5 Kelurahan Kemlayan, Serengan, Solo bersama keponakan dan keluarganya, setelah sebelumnya tinggal di rumahnya Perumnas Palur pemberian Gubernur Jawa Tengah tahun 1980 selama 20 tahun. Ia telah berpisah dengan istrinya tahun 1962. Selepasnya, memilih untuk hidup sendiri. Ia tak mempunyai anak.

Gesang pada awalnya bukanlah seorang pencipta lagu. Dulu, ia hanya seorang penyanyi lagu-lagu keroncong untuk acara dan pesta kecil-kecilan saja di kota Solo. Ia juga pernah menciptakan beberapa lagu, seperti; Keroncong Roda Dunia, Keroncong si Piatu, dan Sapu Tangan, pada masa perang dunia II. Sayangnya, ketiga lagu ini kurang mendapat sambutan dari masyarakat.

Sebagai bentuk penghargaan atas jasanya terhadap perkembangan musik keroncong, pada tahun 1983 Jepang mendirikan Taman Gesang di dekat Bengawan Solo. Pengelolaan taman ini didanai oleh Dana Gesang, sebuah lembaga yang didirikan untuk Gesang di Jepang.

Tahun 2007, Gesdang dirawat di rumah sakit PKU Solo dan menjalani operasi prostat. Di Januari 2010, Gesang masuk rumah sakit kembali, tak lama kemudian Gesang pulang.

Selanjutnya, Gesang masuk rumah sakit Rabu 13 Mei karena gangguan pernafasan dan infeksi kandungan kemih. Minggu, 16 Mei Gesang masuk ICU RSU Solo karena mengalami penurunan tekanan darah. Selasa, 18 Mei Gesang digosipkan meninggal dunia, akan tetapi kabar tersebut ternyata salah.

Lagu-lagu ciptaan Gesang

* Bengawan Solo
* Jembatan Merah
* Pamitan (versi bahasa Indonesia dipopulerkan oleh Broery Pesulima)
* Caping Gunung
* Ali-ali
* Andheng-andheng
* Luntur
* Dongengan
* Saputangan
* Dunia Berdamai
* Si Piatu
* Nusul
* Nawala
* Roda Dunia
* Tembok Besar
* Seto Ohashi
* Pandanwangi
* Impenku
* Kalung Mutiara
* Pemuda Dewasa
* Borobudur
* Tirtonadi
* Sandhang Pangan
* Kacu-kacu

AMY LEE

Amy Lynn Hatzler atau Amy Lee di lahirkan di Riverside, California, 13 Desember 1981, Lee lahir dari pasangan John Lee, seorang disk jockey & TV Personality, dan Sara Cargill. Dia mempunyai satu saudara laki-laki, Robby, dan dua saudara perempuan, Carrie dan Lori. Lee mempunyai saudara perempuan ketiga. yang mati di tahun 1987 saat berumur tiga tahun dari penyakit yang tidak diketahui. Lagu “Hello” dari album Fallen dikabarkan ditulis untuk adik perempuannya, dan lagu “Like You” dari album The Open Door dengan lirik, “I long to be like you, sis, Lie cold in the ground like you did,” juga menunjukkan kematian adiknya dan rasa kesedihannya untuk adiknya. Lee mempelajari piano klasik selama sembilan tahun. Keluarganya berpindah-pindah kebeberapa tempat, termasuk Florida dan Illinois, tapi akhirnya menetap di Little Rock, Arkansas, dimana Evanescence dimulai.

Dia lulus dari Pulaski Academy di tahun 2000 dan juga sempat mengikuti dengan singkat Middle Tennessee State University. Dia membentuk bandnya dengan Ben Moody. Mereka berdua bertemu di Youth Camp ketika Lee memainkan “I’d Do Anything for Love (but I Won’t Do That)” karangan Meat Loaf di piano. Selama setahun, mereka berdua bermain akustik di took buku Arkansas dan kedai kopi sebelum mereka merekam dua EP, Evanescence EP (di tahun 1998) lalu Sound Asleep EP yang juga dikenal dengan nama Whisper EP (di tahun 1999). Di tahun 2000, Evanescence merekam EP yang lebih panjang, Origin. Demo ini terdapat tiga lagu dari album Fallen dan ditulis oleh Lee dan Moody: “Whisper”, “Imaginary”, dan “My Immortal”.

Pada tahun 2003 Evanescence membuat album utama pertama mereka, Fallen. Album ini sudah mendapatkan penghargaan 6x Platinum, dan berada selama 43 minggu pada Billboard Top 10. Lalu lebih dari 12 juta eksemplar album ini laku terjual. Single Evanescence utama yang pertama; "Bring Me to Life" merupakan sebuah dobrakan dunia bagi band ini dan mencapai urutan ke-5 pada Billboard Hot 100 di Amerika Serikat, sementara "My Immortal" yang sama-sama populer mencapai urutan ke-7 di AS. Lalu dimasukkannya lagu-lagu ini dalam soundtrack film Daredevil menolong mereka menjadi populer dan membuat posisi mereka di dunia musik menjadi kokoh.

Lalu single "Bring Me to Life" juga mendapatkan pengakuan untuk band ini pada Grammy Awards of 2004, di mana band ini diberi penghargaan Grammy Award for Best Hard Rock Performance. Pada waktu yang sama, Evanescence juga diberi penghargaan Grammy Award for Best New Artist. Dua single dari album Fallen yang dirilis termasuk "Going Under" dan "Everybody's Fool", yang juga dibuatkan video klip.

Tanggal 22 Oktober 2003, gitaris Ben Moody meninggalkan band dengan alasan "perbedaan secara kreatif". Pada saat interview beberapa bulan kemudian, Amy berkata: "Kami mencapai suatu titik di mana jika tidak sesuatu halpun berubah, kami tidak akan bisa membuat album kedua". Mantan gitaris Cold, Terry Balsamo menggantikan Moody di band, sekaligus menjadi teman menulis (lagu) Amy.


Anywhere But Home dirilis pada tahun 2004 pada format DVD/CD. DVD ini merupakan rekaman dari pertunjukan mereka di Paris beserta beberapa fitur di belakang panggung, seperti penandatanganan CD dan warming up. CD-nya sendiri berisi beberapa lagu yang sebelumnya belum pernah dirilis seperti "Missing", "Breathe No More" (dari film Elektra) dan "Farther Away". Lalu dalam CD ini terdapat pula lagu cover Korn "Thoughtless" yang pernah mereka mainkan pada beberapa pertunjukan live.

Lee mengerjakan tema pembuka dari film The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch and the Wardrobe dan menulis beberapa lagu untuk film tersebut, tapi lagunya ditolak karena terlalu "gelap dan bersifat epos". Namun, Lee telah mengatakan penolakan lagunya adalah "merupakan bahan yang menarik untuk album baru kita".

Saat mengisi acara Live @ Much di sesi MuchMusic pada 9 Januari 2007, Amy membeberkan bahwa dia telah bertunangan malam sebelumnya. Dia lalu memberi konfirmasi pada EvThreads.com bahwa dia telah dilamar oleh Josh Hartzler (29 tahun), teman lamanya yang bekerja sebagai terapis. Lee menyatakan saat wawancara bahwa lagu “Good Enough” dan “Bring Me to Life” terinspirasi dari Josh Hartzler. Mereka menikah pada tanggal 6 Mei 2007, dan berbulan madu di dekat Bahamas. Lee telah mengeposkan bahwa dia sekarang adalah Nyonya Amy Hartzler di forum EvThreads.com.

Lee terkenal dengan nuansa neo gothic, karena sering menggunakan dandanan gothic dan selera akan pakaian yang bergaya victorian. Dia jua mendesain pakaiannya sendiri, termasuk yang dia kenakan di video musik “Going Under”, dan pakaian yang ia kenakan saat Grammy Awards 2004. Setelah dia mendesainnya dia memilih desainer Jepang H. Naoto untuk membuatnya. Di konser, dia sering memakai korset dan fishnets, juga rok panjang dan sepatu boot tinggi. Dia mempunyai piercing (tindik) di alis kirinya yang tampak di kover album Fallen.

ALBUM
  • Evanescence EP (1998)
  • Sound Asleep EP (1999)
  • Origin (2000)
  • Mystary EP (2003)
  • Fallen (2003)
  • Anywhere But Home (2004)
  • The Open Door (2006)

CHAIRIL ANWAR

Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta. Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil.


Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:

Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta

Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.

Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.

Rakannya, Jassin pun punya kenangan tentang ini. “Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.”

Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya.

Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.

Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.

Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, “Saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.”

Berikut ini adalah salah satu puisi karya chairil anwar yang terkenal berjudul "AKU"

AKU

Oleh :
Chairil Anwar
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu-sedan itu
Aku ini binatang jalan
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi